Saturday, November 12, 2005

erti seorang sahabat

Kenapa disaat terjatuh kita ingin seseorang memeluk kita atau sekadar menemani kita? Mengapa juga ketika disakiti kita inginkan seseorang sebagai tempat kita mengadu?

Mungkin kita akan menjadi sakit kembali ketika melihat atau mendengar seseorang yang kebetulan mirip dan dekat dengan orang yang pernah melukai kita. Adakalanya dengan ketakutan dan kebingungan kita memutuskan tidak akan pernah percaya dan mencintai sesiapapun lagi.

Kitapun merasakan senang jika ada seseorang yang selalu disisi ketika kita bersedih mahupun ketika bergembira. Seseorang yang selalu membantu kita tanpa mengharap apapun selain senyuman kita. Yang mengerti, yang memahami dan menerima kita apa adanya

Beberapa dari kita menyebutnya sahabat perjalanan hidup. Sebahagian lebih sederhana mengatakannya teman seperjuangan. Bagi yang romantis menyatakan kekasih hati. Teruntuk yang telah menikah mengakui bahawa Tuhan menciptakannya agar kita tidak merasa kesepian. Sejauh mana beza dari semua itu?

Kenapa bersahabat? Benarkah hidup terlalu tegar untuk dijalani seorang diri? Atau kerana kita ingin menumpahkan rasa sayang dan cinta yang ada didalam hati? Mungkinkah kerana kita memiliki sesuatu yang seiringan hingga kita menyamakan orang lain dengan apa yang kita rasakan?

Sungguh! Betapa sukar mencari sahabat diwaktu kita tengah kesusahan. Dan benarlah betapa mudah mengajak seseorang untuk bergabung dalam kegembiraan kita

Memang....kita semua begitu tidak menyukai penderitaan, meski kita tahu tidaklah mungkin dapat lepas darinya. Meski kita semua tahu hidup hanyalah irama bergantian antara kesedihan dan kegembiraan. Walau kita sedar kebahagiaan hanya milik orang-orang yang pernah menderita dahulu.
Dan setiap orang pastilah punya erti sendiri dalam memaknai penderitaan dan kebahagiaan

Siapa yang kau anggap sahabat? Apakah seseorang yang tiada pernah menyakitimu? Mungkinkah seseorang yang tidak akan pernah meninggalkanmu? Betulkah seseorang yang kamu memutuskan untuk mempercayainya? Atau seseorang yang tidak pernah mengatakan kebaikannya padamu?

Seumpama kita dapat mendengar hati orang lain dan memang benar mahu mendengar? Tidak pernah ada yang mempunyai cita-cita untuk jadi orang jahat dan hidup tidak berbahagia.

Seandainya kita dapat melihat dan memang benar mahu melihat? Ketika seseorang tengah tertidur lena. Kita akan dapat untuk lebih berfikir beberapa kali sebelum berani sekadar berprangsangka keji apalagi untuk menyakitinya. Tetapi kenapa itu terkadang terpaksa harus?

Disaat kita tiba-tiba merasa peduli dengan seseorang, kita seolah dapat merasakan apa yang sedang menjadi bebannya dan kita ingin meringankannya. Namun terkadang kita sangat acuh kepada seseorang yang benar- benar memerlukan kita

Apa yang kita cari? Untuk siapa dan untuk apa kita di ciptakan didunia ini? Apa beza kita dengan orang lain?

Sedalam kelemahan kita harusnya kita lebih sering berkata "maaf" dibanding "aku' jika kita memang manganggapnya sahabat. Setinggi keinginan kita harusnya kita lebih berbahagia berkata "aku tidak mau menyusahkanmu" dibanding "mengertilah diriku" jika kita telah mengerti bahawa dia sahabat kita.

Membayangkan kita berbahagia sendiri sedang sahabat-sahabat kita kesusahan haruskah kita makan dan tidur dengan tenang? Mungkin lebih baik semua sahabat telah berbahagia dan kita turut berbahagia meski itu harus berbohong demi perasaan itu. Kerana syurga masih terlalu luas untuk semua ini, kenapa tidak berbagi?

Bertahanlah, kerana sahabatmu adalah semua yang pernah hadir dalam hatimu. Berterima kasihlah, sahabatmu adalah semua yang telah membentukmu hingga kamu menjadi seperti sekarang ini. Bersiaplah, kerana kamu akan masih kehilangan ramai sahabat untuk menemukan sahabat-sahabat baru sepanjang perjalanan hidupmu.
Image hosted by Photobucket.com

1 Comments:

Blogger rafreen said...

fa, mu ok ke?tapi bila baca ku tau cam ada problemo je mu nih..bebila free meh la chat sesama.

oh ye..apa link blog kakak mu ek?lama ku tak masuk situ

1:31 PM  

Post a Comment

<< Home